Apa itu Peta Isohyet?
Isohyet adalah garis/area yang menghubungkan titik-titik dengan
curah hujan yang sama. Peta ini menggambar warna intensitas hujan untuk
seluruh wilayah dengan cara menginterpolasi (memperkirakan) nilai
di antara pos-pos pemantau curah hujan yang ada di lapangan.
Data sumber: pos hidrologi dengan tipe CURAH HUJAN yang memiliki
sensor Rainfall Level dengan tipe bukan MANUAL
(TELEMETRI / OTOMATIK) — yaitu pos yang mengirim data secara real-time.
Penting:
Warna di antara titik-titik pos adalah perkiraan matematis,
bukan pengukuran langsung. Semakin jauh sebuah lokasi dari pos pemantau terdekat,
semakin besar tingkat ketidakpastiannya.
Cara Menggunakan
-
Pilih "Akumulasi Hujan" di panel kiri — menentukan rentang
waktu penjumlahan hujan (1, 3, 6, atau 24 jam terakhir).
-
Atur "Jendela Fresh" — pos yang tidak mengirim data lebih
lama dari nilai ini akan disembunyikan agar peta tidak menyesatkan.
-
Klik "Muat Ulang Data" jika ingin segera memperbarui
(peta otomatis refresh setiap 5 menit).
-
Klik marker pos untuk melihat detail: nama pos, pengelola,
DAS, akumulasi hujan, dan waktu pembacaan terakhir.
-
Gunakan toggle "Tampilan Peta" untuk menyembunyikan layer
isohyet, marker, label angka, atau panah angin.
-
Hover/sentuh peta untuk melihat nilai curah hujan terinterpolasi
di titik mana pun (lihat bagian "Nilai saat Hover" di bawah).
Membaca Nilai saat Hover
Saat kursor digerakkan di atas area peta (atau disentuh
di perangkat mobile), akan muncul kotak kecil yang menampilkan:
- Nilai mm — perkiraan curah hujan di titik tersebut (hasil interpolasi IDW).
- Kategori — klasifikasi BMKG (Tidak Hujan / Ringan / dst).
- Koordinat — lat/lng pointer.
Di mobile: tap satu kali di peta — tooltip muncul 4 detik lalu hilang otomatis.
Fitur ini bisa dimatikan via toggle "Tampilkan Nilai saat Hover" jika mengganggu.
Membaca Faktor Angin
Pos klimatologi yang mengirim data angin ditampilkan sebagai
panah biru di peta. Aturan baca:
-
Arah panah menunjukkan ke mana angin bertiup
(mengikuti konvensi visualisasi cuaca; data mentah di DB adalah arah datang
dengan azimuth 0°=Utara, 90°=Timur).
-
Label di bawah panah berisi kecepatan angin + arah dalam derajat
(misal "1.5 m/s · 270°").
-
Pos yang hanya kirim kecepatan tanpa arah ditampilkan dengan ikon
◉ (titik) — bukan panah.
- Klik panah untuk detail lengkap (kecepatan, arah dalam derajat & mata angin, waktu pembacaan).
Catatan: Data angin hanya tersedia di pos KLIMATOLOGI (sebagian kecil pos
di wilayah BBWS). Bila tidak ada panah biru, berarti tidak ada pos angin yang aktif
dalam jendela "Fresh" yang dipilih.
Batas Wilayah Sungai (WS)
Warna isohyet dibatasi hanya di area Wilayah Sungai resmi
BBWS Cimanuk-Cisanggarung dan BBWS Pemali-Juana (WS Jratunseluna). Batas
ini berasal dari file GeoJSON batas resmi BBWS, bukan perkiraan otomatis.
- Toggle "Batasi Area Wilayah Sungai" bisa dimatikan untuk melihat
ekstrapolasi penuh — gunakan saat ingin memahami pola interpolasi mentah.
- Toggle "Garis Batas WS" menampilkan garis ungu putus-putus
di tepi WS untuk referensi visual.
Catatan teknis: Bila file GeoJSON batas resmi tidak tersedia
(mis. baru deploy & belum upload), sistem akan otomatis fallback ke
concave hull dari sebaran pos. Anda tetap akan melihat masking
walaupun bentuknya tidak seakurat batas resmi.
Layer DAS (Daerah Aliran Sungai)
Aktifkan toggle "Layer DAS" untuk menampilkan batas
80 DAS (25 di Cimancis + 55 di Jratunseluna) sebagai overlay
di peta. Fitur ini sangat berguna untuk:
- Klik area DAS di peta — popup akan menampilkan nama DAS,
WS pemilik, luas (km²), jumlah pos CH di dalam DAS, dan rata-rata curah hujan
pos-pos tersebut.
- Sorot DAS tertentu via dropdown filter — DAS dipilih akan
ditandai warna kuning dan peta otomatis zoom ke wilayahnya. Berguna untuk
analisis fokus per DAS (mis. evaluasi hujan untuk perencanaan drainase).
- Popup pos CH juga otomatis menunjukkan DAS di mana pos
tersebut berada (spatial join otomatis berdasarkan koordinat).
Tip: Kombinasikan dengan mode Historis untuk analisis areal
rainfall per DAS — mis. "Rata-rata Tahunan untuk DAS Cimanuk", "Hujan Rencana
50 Tahun untuk DAS Garang".
Cara Membaca Warna (Klasifikasi BMKG)
Warna
Intensitas
Nilai (mm)
Tidak Hujan
< 0.1
Hujan Ringan
0.1 – 5
Hujan Sedang
5 – 10
Hujan Lebat
10 – 20
Sangat Lebat
20 – 50
Ekstrem
50 – 100
Ekstrem Tinggi
> 100
Nilai mengacu pada total akumulasi sesuai pilihan durasi.
Contoh: warna oranye pada mode "1 Jam Terakhir" berarti turun 20–50 mm dalam 1 jam
(sangat deras); warna oranye pada mode "24 Jam Terakhir" berarti total 20–50 mm
sepanjang sehari (intensitas jauh lebih ringan per jamnya).
Animasi Timeline
Tombol "Animasi Timeline" di sidebar memutar playback peta isohyet
seiring waktu — mirip radar cuaca BMKG. Tiap "frame" menampilkan akumulasi hujan
pada jendela waktu tertentu (default 1 jam), mundur ke belakang sebanyak durasi yang dipilih.
- Durasi — total rentang waktu animasi (6 / 12 / 24 / 48 / 72 jam terakhir).
- Step — interval antar frame. Step 1 jam dengan durasi 6 jam = 7 frame.
- Kecepatan — interval ganti frame saat play (Lambat / Normal / Cepat / Sangat Cepat).
- Loop — saat sampai akhir, kembali ke frame pertama otomatis.
Kontrol playback:
⏮ ⏯ ⏭ untuk frame demi frame, ↺ untuk reset ke awal, slider untuk
scrub manual ke frame manapun. Tutup dengan tombol × atau tekan ESC.
Cara baca animasi: Warna isohyet akan berubah sesuai pola hujan tiap jam.
Misal awal warna biru (hujan ringan) lalu berubah ke oranye (lebat) berarti intensitas
meningkat. Berguna untuk memantau arah pergerakan hujan dan
intensifikasi badai dalam beberapa jam terakhir.
Catatan teknis: Saat tombol Animasi ditekan, sistem akan
pre-render semua frame ke canvas (sekali saja, ~200ms per frame).
Untuk durasi panjang (72 jam, step 1 jam = 73 frame), pre-render bisa
memakan ~15 detik. Gunakan step lebih besar (3 atau 6 jam) untuk durasi panjang.
Data Historis & Hujan Rencana
Tombol Historis di panel Jenis Data mengubah mode peta dari
real-time menjadi statistik jangka panjang (data sejak 1970).
Tersedia beberapa jenis analisis:
- Rata-rata Tahunan — total hujan per tahun, dirata-rata di seluruh
rentang tahun. Berguna untuk peta klimatologi dasar (mm/tahun).
- Rata-rata Bulanan — rata-rata total hujan untuk bulan tertentu
(Jan/Feb/...) sepanjang rentang tahun. Cocok untuk pola musiman (mm/bulan).
- Maksimum Harian — nilai hujan harian tertinggi yang pernah tercatat
di tiap pos. Penting untuk mengenal ekstrem yang pernah terjadi (mm/hari).
- Hujan Rencana 2/5/10/25/50/100 Tahun — perkiraan curah hujan harian
yang punya peluang dilampaui rata-rata sekali setiap T tahun
(return period / kala ulang). Inilah input standar untuk desain
bangunan air (saluran, gorong-gorong, bendung, drainase).
Bagaimana Hujan Rencana dihitung?
Server mengambil
annual maxima series (hujan harian tertinggi per tahun)
untuk setiap pos, lalu mencocokkan ke distribusi probabilitas yang Anda pilih:
- Gumbel (Extreme Value Type I) — paling stabil untuk hujan
harian. Parameter via method of moments. Cocok untuk sebagian besar
kasus di Indonesia.
- Log-Pearson III — distribusi yang direkomendasikan
SNI-2415:2016. Akurat untuk data dengan skewness tinggi. Parameter dihitung
dari log10 data + frequency factor (Wilson-Hilferty).
Penting:
- Hasil Hujan Rencana sangat dipengaruhi panjang seri data.
Pos dengan data < 10 tahun: gunakan hasilnya hanya sebagai perkiraan kasar.
Pos dengan < 3 tahun: tidak akan ditampilkan (statistik tidak reliable).
- Gumbel dan Log-Pearson III bisa memberi nilai berbeda untuk T besar
(50, 100 tahun). Itu wajar karena asumsi distribusinya berbeda.
Saran: hitung dengan keduanya lalu bandingkan.
- Pos MANUAL tetap diabaikan sesuai konvensi sistem ini.
Metode Interpolasi
Interpolasi adalah cara memperkirakan nilai hujan di lokasi yang
tidak ada posnya, berdasarkan pos-pos di sekitarnya. Tersedia 3 metode:
-
IDW (Inverse Distance Weighting) — metode default. Nilai di
suatu titik = rata-rata tertimbang semua pos, di mana pos yang lebih dekat
berbobot lebih besar. Stabil, mudah dipahami, dan punya parameter
power untuk mengatur ketajaman. Cocok untuk sebagian besar kebutuhan.
-
TIN (Triangulated Irregular Network) — menghubungkan pos-pos
menjadi jaringan segitiga (Delaunay), lalu menghitung nilai secara linier di
dalam tiap segitiga. Hasilnya tegas/faceted dan hanya mengisi area di antara
pos (tidak mengekstrapolasi keluar). Bagus untuk melihat gradien antar pos
secara apa adanya tanpa "pelunakan".
-
Natural Neighbor (eksperimental) — memberi bobot berdasarkan
pos "tetangga alami" (hasil diagram Voronoi). Transisinya lebih halus daripada
TIN dan lebih lokal daripada IDW. Versi di sini adalah aproksimasi ringan
agar tetap cepat di browser, sehingga hasilnya tidak 100% identik dengan
Natural Neighbor (Sibson) eksak — gunakan sebagai pembanding, bukan acuan utama.
Saran praktis: Untuk operasional harian gunakan IDW.
Bandingkan dengan TIN bila ingin melihat batas perubahan hujan
antar pos secara tegas. Catat bahwa metode berbeda bisa memberi nilai berbeda di
titik yang sama — itu wajar, karena masing-masing punya asumsi sendiri.
Parameter Lanjutan
-
Opacity Isohyet — transparansi layer warna. Geser ke kiri
agar peta dasar (jalan, sungai) lebih jelas terlihat.
-
IDW Power (p) — (hanya untuk metode IDW) mengatur seberapa cepat
pengaruh sebuah pos memudar terhadap jarak.
- p kecil (1–1.5) → transisi halus, area luas dipengaruhi banyak pos.
- p = 2 → standar (default), kompromi antara halus & tajam.
- p besar (3–5) → setiap pos dominan di sekitarnya saja, transisi tajam.
Membaca Panel "Ringkasan"
- Total Pos CH — jumlah pos yang berhasil dimuat (sudah lolos filter "fresh").
- Hujan Maks — nilai akumulasi tertinggi saat ini.
- Rata-rata — rata-rata sederhana antar pos (bukan rata-rata spasial tertimbang).
- Update — waktu data terakhir di-generate dari server.
Batasan & Catatan Penting
-
Bukan prediksi cuaca. Peta ini menampilkan kondisi
yang sudah terjadi berdasarkan sensor lapangan, bukan ramalan.
-
Area dengan kepadatan pos rendah (misalnya di tepi peta atau
di pegunungan terpencil) memiliki ketidakpastian lebih tinggi. Gunakan warna
di area tersebut sebagai indikasi kasar saja.
-
Pos offline tidak ditampilkan agar tidak menarik interpolasi
ke nilai usang. Bila banyak pos mati di satu wilayah, hasil isohyet di
sekitarnya jadi kurang akurat.
-
Pos MANUAL diabaikan karena tidak real-time — pencatatannya
biasanya hanya 1–3 kali per hari oleh petugas.
-
Untuk pengambilan keputusan operasional (peringatan dini banjir, dll),
selalu verifikasi dengan data per-pos melalui klik marker,
jangan hanya mengandalkan warna interpolasi.
Tip cepat:
Untuk identifikasi kejadian hujan ekstrem yang sedang berlangsung,
pakai mode "1 Jam Terakhir". Untuk evaluasi total hujan
harian, pakai "24 Jam Terakhir".